Sunday, June 21, 2009

Kontes SEO Joko Susilo

Latar Belakang

Begitu banyak rekan yang sedang berbisnis online (atau offline) kehilangan arah. Dan parahnya, mereka kehilangan daya karena terlalu banyak informasi dan rencana tanpa tindakan. Buaian impian menjadi sukses yang terlalu lama membuat mereka semakin terlena dalam lamunan. Mereka cenderung mencari kesempurnaan, mengabaikan cara-cara sederhana, dan terus saja mencari cara ajaib untuk mengubah nasibnya.

Mereka tidak sadar bahwa satu-satunya cara untuk menggapai sukses adalah dengan ACTION secara terarah dan konsisten. Itulah sebabnya, mengapa sering kita temui orang biasa bisa mendapatkan keberhasilan luar biasa walau hanya dengan amunisi sederhana.

Oleh karena itu, saya ingin menggalakkan kampanye “Stop DREAMING Start ACTION” dan menyebarkannya ke segala penjuru internet melalui KONTES SEO.

Tujuan Kontes

Kontes ini saya buat untuk menyadarkan diri saya, dan juga anda semua akan pentingnya ACTION. Pentingnya segera menyudahi mimpi yang tak bertepi, dan segera bertindak.

Melalui kontes ini, semakin banyak orang yang membahas pentingnya action dalam bisnis (atau dalam sisi kehidupan apapun juga), maka akan semakin banyak penjelajah maya yang membaca dan mendapatkan semangat besar untuk segera beraksi demi kemajuannya sendiri. Termasuk bagi para peserta kontes.

Harapan saya, ini akan membantu memberikan aura positif di dunia bisnis internet Indonesia dengan cara yang positif dan bersahabat.
Detail Lomba

Waktu Perlombaan:

Dimulai tanggal 20 Juni 2009, dan berakhir tanggal 15 September 2009 jam 9.00 WIB.

Tema Tulisan:

“Komitmen Stop Dreaming Start Action untuk masa depan yang lebih baik”.

Silakan tulis apa saja yang berkaitan dengan tema itu. Tulisan dianjurkan lebih bersifat motivasional, yang menggerakkan pembaca untuk bertindak. Boleh dalam bidang kehidupan apapun juga, misal bisnis, finansial, fisik, jiwa, sosial dsb.

Anda boleh tulis dari pendekatan manapun juga. Boleh dalam bentuk cerita, pengalaman, contoh, dan sebagainya. Gaya penulisan mau serius, humor, dll dipersilahkan, yang penting tujuannya tersampaikan. Kreativitas anda saya tantang di sini. Untuk bahan tulisan, silakan cari di Google.com. Anda akan temukan referensi melimpah di sana.

Target Kata kunci:

Stop Dreaming Start Action (tanpa tanda petik)

Juri:

Google.co.id, bukan Google.com

Pemenang: Top 10 Google Results.

Mereka yang menjadi pemenang adalah blog atau situs web yang berada pada posisi 1-10 halaman pertama google.co.id dengan kata kunci “Stop Dreaming Start Action” pada akhir masa perlombaan, yaitu tanggal 15 September 2009 jam 9.00 WIB.

Para pemenang akan diumumkan tanggal 16 September 2009 jam 9 pagi, melalui blog JokoSusilo.com. Tepat 4 hari sebelum lebaran. Buat pemenang, ini akan jadi bonus Hari Raya buat anda.

Hadiah:

Total hadiah sebesar Rp 25 juta, dengan komposisi sebagai berikut:

Pemenang 1: Rp 12.000.000,- + Free membership RahasiaBlogging.com
Pemenang 2: Rp 6.000.000,- + Free membership RahasiaBlogging.com
Pemenang 3: Rp 3.000.000,- + Free membership RahasiaBlogging.com
Pemenang 4: Rp 1.500.000,- + Free membership RahasiaBlogging.com
Pemenang 5: Rp 750.000,- + Free membership RahasiaBlogging.com
Pemenang 6: Rp 500.000,- + Free membership RahasiaBlogging.com
Pemenang 7: Rp 500.000,- + Free membership RahasiaBlogging.com
Pemenang 8: Rp 250.000,- + Free membership RahasiaBlogging.com
Pemenang 9: Rp 250.000,- + Free membership RahasiaBlogging.com
Pemenang 10: Rp 250.000,- + Free membership RahasiaBlogging.com

Cara kerja:

1. Lakukan pendaftaran terlebih dahulu disini. Anda akan memiliki akses ke Area Peserta.
2. Laporkan tulisan anda dengan memasukkan alamat URLnya melalui Area Peserta.
3. Pemenang akan diumumkan di blog dan di Area Peserta.

Ketentuan Utama:

* Konten harus memiliki makna sesuai tema, dan bukan hanya modifikasi keyword yang semata-mata untuk optimasi SEO saja.
* Konten harus mencantumkan nama Joko Susilo yang nge-link ke salah satu postingan blog JokoSusilo.com.

Ketentuan Umum:

* Kontes ini terbuka untuk para pemilik blog dan situs web di Indonesia.
* Hanya pemilik website dan blog pribadi (gratis atau dengan domain sendiri) yang boleh ikut. Website forum, iklan baris dan website publik lainnya (dimana konten diisi oleh pengunjung) tidak diperbolehkan ikut serta.
* Konten tidak boleh mengandung pornografi, isu SARA, hujatan, permusuhan, atau hal-hal yang tidak baik.
* URL dilarang menggunakan domain bertarget kata kunci. Hanya subdomain dan nama file yang boleh bertarget kata kunci.
* Peserta dilarang menggunakan metode Black Hat untuk mencapai ranking tinggi SEO.
* Dilarang mengcopy artikel peserta lain, atau keikutsertaannya akan digugurkan.
* Anda boleh menulis sebanyak-banyaknya, di berbagai website anda, tapi saat penilaian di Google.co.id, yang diambil hanya satu hasil teratas saja.
* Konten boleh diedit berulangkali untuk kepentingan SEO asal tidak mengubah esensi materi.
* Bila nanti hasil yang muncul di Google.co.id adalah website JokoSusilo.com, FormulaBisnis.com, RahasiaBlogging.com atau website lainnya milik Joko Susilo, maka itu tidak masuk hitungan dan pemenangnya adalah yang berada di posisi berikutnya.
* Bila nanti hasil yang muncul di Google.co.id adalah website publik (tidak diperbolehkan ikut), maka itu tidak masuk hitungan dan pemenangnya adalah yang berada di posisi berikutnya.
* Bila ada perubahan atau ketentuan tambahan, akan diinformasikan melalui blog JokoSusilo.com. Karena itu kunjungi terus blog JokoSusilo.com.
* Panitia berhak menyetujui/tidak keanggotaan peserta atau artikel tertentu berdasarkan peraturan yang ada.

Tuesday, September 16, 2008

Industri Politik

Dunia politik kita berubah wujud menjadi semacam industri. Karakteristik itu sangat tampak jelas ketika secara langsung maupun tidak, partai politik begitu gencar mencari kandidat legislatif secara terbuka. Bahkan dalam prakteknya, tidak sedikit partai politik yang membuka lowongan (calon anggota legislatif) itu di media massa. Kemudian seperti akan melamar pekerjaan, masyarakat berbondong-bondong mengantri untuk menjadi calon anggota legislatif (Caleg) di berbagai tingkatan.

Sebuah fenomena yang sangat menarik – kalau tidak dikatan ironis. Di tengah apatisme massa terhadap dunia politik, yang ditandai dengan tingkat golongan putih (Golput) di berbagai Pilkada langsung, partai politik mencoba menawarkan sebuah harapan baru dimana publik kini tidak hanya memilih tetapi juga dipilih. Dalam konteks ini, partisipasi masyarakat semakin baik, sebab bukan sekedar teknis memilih tetapi bagaimana turut aktif dalam proses kampanye.

Mau tidak mau, setiap Caleg yang tercantum dituntut untuk menjadi semacam agen bagi partai politik yang menjadi sandarannya. Kampanye adalah bahasa sederhana yang dapat menggerakan seluruh potensi kader partai politik dan para Caleg yang diusung. Walaupun untuk bergerak menjadi aktor kampanye, bagi Caleg tentu akan sangat berhitung. Menuju gedung parlemen tentu tidak cukup dengan cai atah, memerlukan dana yang cukup besar sebagai cost politik guna meraih simpati rakyat.

Progresifitas calon legislatif tentu akan sangat berbeda satu dengan yang lainnya. Semuanya tergantung dari beberapa faktor yang menyebabkan caleg itu progresif atau tidak. Pertama, sangat dipengaruhi oleh kebijakan partai politik. Bagi partai politik yang menggunakan nomor urut (mencaplok mentah-mentah apa kata undang-undang) hanya melahirkan gairah berkampanye pada para caleg yang menempati nomor urut jadi. Mereka yang berada di nomor sepatu, jangankan untuk melakukan kampanye secara jor-joran, untuk memenuhi persyaratan pencalegan saja menyerahkan kepada partai atau Celeg jadi tersebut.

Hal ini akan sangat berbeda ketika partai politik memiliki kebijakan yang kreatif, dengan menggunakan suara terbanyak. Walaupun masih kontroversi dalam konsistensi penerapannya, namun kebijakan beberapa partai politik seperti ini telah membuka peluang untuk lahirnya sebuah persaingan yang sehat antar kader. Langkah ini begitu terbuka untuk semakin membesarkan partai politik, sebab setiap Caleg aktif kampanye dengan membawa bendera partai politik. Di sini tidak berlaku nomor peci atau nomor sepatu, yang menjadi patokan adalah siapa mendapatkan suara berapa.

Kedua, kualitas kader. Menjadi Caleg idealnya tidak hanya modal dengkul, tetapi juga harus punya otak (cerdas). Dana memang penting, tetapi yang lebih penting lagi sebuah partai memiliki Caleg yang cerdas sehingga baik ketika proses kampanye maupun sudah berada di gedung parlemen, dia menjadi corong partai yang diperhitungkan. Keberadaan kader seperti ini tidak akan memalukan partai politik bahkan turut menaikan harga partai politik. Dalam proses kampanye, para Caleg akan sangat kontras terlihat mana yang berkualitas mana yang beloon. Mana yang memiliki otak dan mana yang hanya modal nekad.

Tidak cukup di situ, publik sempat nyinyir ketika menyaksikan langkah-langkah tidak populis dilakukan oleh partai politik. Kini wacana pencalegan yang diwarnai tarif sudah menjadi rahasiah umum. Tarif itu berpareasi, mulai dari ratusan juta hingga Rp 14 Milyar untuk mendapatkan nomor jadi. Nomor jadi menjadi barang dagangan yang sangat menguntungkan secara materi. Nomor ini menjadi rebutan, bukan dalam konteks kualitas dan loyalitas, tetapi berapa dan siapa yang berani membayar. Lelang nomor urut ini semakin tinggi ketika berada di Daerah Pemilihan (Dapil) yang subur atau potensial untuk partai-partai tertentu.

Tidak ada partai politik bahkan kadernya yang mengaku bahwa semua ini benar-benar terjadi, namun sebagai mana para pengamat mengakui bahwa praktek lelang nomor urut ibarat kentut, yang semua orang mencium tetapi sangat sulit dibuktikan. Kita hanya akan merasakan jika berada di dalam, padahal aroma itu sudah merebak ke luar gelanggang partai politik. Proses cuci tangan dan langkah-langkah cari muka pun selalu dilakukan untuk meminimalisir cibiran publik terhadap perilaku elit partai politik yang tidak terpuji.

Kendati ada satu-dua partai politik yang tidak melakukan praktek ini, namun kotornya dunia politik di kita sudah menjadikan stigma kuat di kalangan masyarakat hingga senantiasa menurunkan wibawa dari makna politik itu sendiri. Karena politik sudah identik dengan materi maka sulit mensterilkan aktivitas politik dari pandangan pragmatis. Bahwa politik itu butuh ongkos ya, tetapi jika tidak punya uang jangan berpolitik, atau berpolitik itu demi uang maka ini yang menjadi persoalan.

Dalam konteks masyarakat yang masih rendah tingkat pendapatan ekonominya, juga ditengah sulitnya lapangan kerja, maka banyak publik yang kemudian mensejajarkan partai politik dengan sebuah perusahaan. Masuk ke partai politik itu artinya merupakan sebuah pengharapan masa depan untuk kesejahteraan hidup. Menjadi caleg harus berebut, kalau perlu harus nyogok tidak peduli uang dapat menggadaikan barang yang ada atau pinjam dulu, yang penting kelak akan mendapat gaji yang cukup ketika menjadi anggota legislatif.

Karenanya pandangan ini sejajar dengan pola rekrutmen partai politik di atas, bahwa di satu sisi elit partai menganggap anggota legislatif bisa diisi oleh siapa saja tanpa kriteria yang jelas (bahkan diumumkan di media massa), asalkan mau atau asal banyak uang, di sisi lain publik kini sedang kesulitan mencari kerja. Kondisi ini dimanfaatkan oleh publik sebagai sebuah harapan hidup yang menjanjikan bagi diri dan keluarganya ke depan. Karena aktif di partai politik pandangannya sudah serba materi, maka walaupun tidak menjadi anggota dewa, maka kerjanya hanya mendulang uang bukan melakukan pencerahan dan pemberdayaan kepada masyarakat. Inilah resiko dimana partai politik sudah berubah wujud menjadi sebuah industri, semuanya dikalkulasi dari aspek materi.

Friday, August 29, 2008

Pesan Otista Untuk Generasi Muda (Pasundan)

“Pemuda harus sanggup menjadi harapan bangsa, harus menyusun generasi baru yang sanggup menerima pekerjaan yang akan ditimpakan di atas bahunya. Pemuda harus berani memperbaiki susunan masyarakat yang telah bobrok, dengan semangat baru yang selaras dengan keadaan. Pemuda harus berani menyusun kebudayaan yang baru, kebudayaan dunia segenapnya. Pemuda harus berani meneruskan generasinya, harus berani meneruskan sejarah bangsanya untuk kemuliaan kemanusaiaan seumumnya”
Oto Iskandar Dinata (Iip D. Yahya: 2008)

Di tengah riuhnya dunia politik tanah air, mucul wacana yang menggembirakan, yaitu pentingnya tokoh muda memimpin bangsa. Diawali dari Jawa Barat, kader muda tidak lagi menjadi wacana, tetapi benar-benar nyata dan telah terbukti. Kemenangan Hade di Jawa Barat merupakan jawaban atas keinginan publik untuk lahirnya sosok muda tampil memimpin.

Di ikuti oleh beberapa Propinsi lain yang juga membuktikan kemunculan kaum muda, kemudian wacana politik nasional semakin menguatan bahwa kaum muda benar-benar bukan lagi keinginan tetapi tuntutan yang harus direalisasikan. Kendati masih mendapat tantangan khususnya dari kalangan senior yang termasuk golongan tua, namun wacana itu tidak padam begitu saja.

Boleh Partai Politik menjegal lahirnya kandidat dari kaum muda, boleh berbagai elemen memandang kaum muda sebelah mata, namun sebaliknya kaum muda harus membuktikan diri bahwa dirinya benar-benar bisa. Jika ada politisi senior yang mengatakan bahwa anak muda jangan cengeng, maka kaum muda bisa bicara “kaum tua jangan kebakaran jenggot.” Yang jelas segala sesuatu ada zamannya. Jika semua berjalan baik, maka proses itu akan menggelinding normal. Namun jika banyak onak dan duri, maka zaman akan memotong generasi yang menjadi penghalang lahirnya peradaban yang mencerahkan.

Kini tantangan kaum muda semakin berat. Sebelum melenggang ke pentas perhelatan Capres 2009, ada berbagai tantangan yang harus dihadapi selama proses itu berlangsung. Selain ketidak legowoan kaum tua, kaum muda juga harus mulai menata pola berfikir yang tidak sederhana. Sebab wacana muda tidak berdiri tunggal, tetapi harus bergandengan dengan syarat kualitas yang dapat dibanggakan. Sehingga kelemahan pada aspek pengalaman (yang dimiliki kaum tua), bisa ditutupi dengan berbagai kelebihan yang dimiliki kaum muda.

Jika demikian, persoalan muda tidak hanya pada aspek usia, tetapi juga harus merepresentasikan kemudaan dalam berfikir. Dalam konteks berfikir, kaum muda selalu memiliki karakter yang khas. Selain berwawasan luas, karakter berfikir muda adalah inifatif, berani membuat terobosan, dan kreatif. Untuk mengubah bangsa yang sangat carut marut memang diperlukan kreatifitas berfikir dan energi fisik yang kuat. Sebab tidak mungkin menyelesaikan persoalan segudang jika hanya menggunakan pola fikir lama, normative dan serba kaku. Karenanya kaum muda adalah mereka juga yang memiliki tingkat independensi dalam arti tidak memiliki beban birokrasi.

Pemuda Pasundan

Fenomena Hade sesungguhnya harus menjadi bahan renungan mendalam bagi seluruh elemen masyarakat Jawa Barat. Jika pada wacana nasional, fakta di Jawa Barat merupakan sinyal lahirnya tokoh muda di pentas nasional, maka bagi rakyat Jawa Barat sendiri, fenomena itu merupakan awal yang baik bagi lahirnya generasi Jawa Barat untuk manggung di pentas nasional.

Sangat disayangkan jika wacana yang diawali dari Jawa Barat ini hanya terhenti di Gedung Sate, sedangkan Istana merdeka tetapi diambil orang lain. Putra terbaik Jawa Barat saya kira sudah saatnya bangkit dan tampil untuk tampil di pentas nasional berlomba dengan berbagai anak bangsa lain. Sudah saatnya kader muda Pasundan (dalam bahasa Otistas) tandang makalangan berjuang untuk bangsa Indonesia. Berlomba bukan hanya dalam konteks memperebutkan popularitas, tetapi mengadu kualitas dengan segudang argumen yang berbasis pada pemikiran yang berkualitas.

Bukan saatnya lagi generasi muda Pasundan memegang filosofi “mangga tipayun” seperti orang tua dulu. Istilah itu harus segera dijauhkan dari kamus generasi muda pasundan, sebab hanya akan menjustifikasi berbagai sikap politik dengan selalu memberikan posisi kepada orang lain, sementara kita hanya menjadi penonton. Generasi muda Pasundan kini jangan membiarkan bangsa ini larut dalam berbagai persoalan yang merugikan seluruh anak bangsa. Anak muda Pasundan harus aktif memberikan solusi dengan tampil dan berlomba di pentas puncak kepemimpinan nasional.

Saat ini filosofi urang Sunda “mangga tipayun” itu harus dirubah dengan “punten kapayunan”. Dua istilah ini tentu memiliki akar argumen dan efek yang sangat berbeda. “Mangga tipayun” menunjukan bahwa orang Sunda itu selalu mengalah. Walaupun selalu mengalah sangat tipis perbedaannya dengan selalu kalah. Hal inilah kemudian yang menjadikan orang Sunda sangat sulit untuk tampil di pentas nasional. Orang Sunda hanya diberji jatah oleh orang lain untuk menduduki posisi-posisi tertentu, bukan merebut atau memperjuangkannya sendiri.

Sedangkan punten kapayunan, merupakan sebuah kata yang mengandung makna profikatif. Generasi Pasundan seperti ini adalah mereka yang siap berlomba dalam kebaikan. Mereka tidak pantang menyerah untuk urusan kebangsaan dan keummatan. Walaupun demikian, kebaradaan kata “punten” merupakan representasi orang Sunda yang tetap sopan dan selalu menghargai orang lain. Namun yang bedanya, di sini generasi Pasundan tidak lagi merelakan posisi-posisi strategis untuk mengabdi itu diberikan kepada orang lain begitu saja tanpa dibarengi dengan proses persaingan yang sehat dan mencerdaskan.

Wacana ini perlu di bangun, sebab kini Urang Sunda bukan hanya tidak dapat berlomba di ajang nasional, tetapi juga terkadang pada banyak kasus menjadi tamu di rumahnya sendiri. Banyak posisi pengabdian itu dipegang orang non Pasundan, sedangkan pribuminya hanya menjadi pesuruh atau paling banter menjadi anak buah. Oleh karenanya, dalam skala yang lebih sempit (tatar Pasundan), Otista juga mengamanati generasi muda untuk senantiasa aktif mengabdi di tanah kelahirannya sendiri.

“Pasundan adalah tanah air kalian? Kalian yang punya kewajiban mengabdi demi tanah air, tapi di samping kewajiban itu, kalian memiliki hak untuk hidup di tanah sendiri. Ini adala menurut patokan: kewajiban dan hak. Pemuda Sunda? Kalau kalian tidak sungguh-sungguh mengasah diri, bukan mustahul, Pemuda Sunda di tanah airnya tidak mendapat bagian, terpaksa harus berkosong tangan, sebab kalah oleh golongan lain. Oleh sebab itu, para Pemuda Sunda, cepat buka mata, cepat kumpulkan tenaga dan senjata, yang dibangun dengan pengetahuan adat tabiat yang kuat, yaitu: kesungguhan, kemauan, ketekunan, niat yang kuat dan keberanian. Kalau tidak demikian, akan sia-sia, pasti Pemuda Sunda terdesak di medan perang dalam mencari penghidupan. Coba bayangkan, bagaimana prihatinnya kalau paling tinggi jadi jurutulis, ringkasnya hanya menjadi pelayan, dan itu di tanah air sendiri. Aduh tobat, kalau harus sampai demikian. Tidak, jangan sampai begitu, jauhkan yang seperti itu dari tanah Sunda.”

Pesan-pesan Oto Iskandar Dinata memang sangat membakar. Tetapi sesungguhnya dia tidak mengajarkan genarasi muda Pasundan untuk hidup inklusif dan rasial. Otista sendiri, telah malang melintang mengabdikan dirinya di pentas nasional, dan menjadi tokoh nasional penting pada zamannya. Pesan Otista ini harus ditangkap sebagai cambuk kepada generasi muda Pasundan agar tidak puas dengan apa yang ada. Generasi muda Pasundan harus berjuang untuk mengabdikan dirinya demi kepentingan orang banyak semaksimal mungkin. Kalau perlu hingga kepemimpinan nasional. Kenapa tidak!